SIMULASI SOSIAL DALAM “CYBERSPACE”

Era informasi digital sekarang ini, telah menawarkan substitusi ruang sosial dunia nyata dalam wujud simulasi sosial (social simulation) di ruang jejaring sosial. Ruang sosial di dunia maya disebut Piliang sebagai cyberspace ini yang bias lebih spesifik pada facebook, telah menjadi ruang utama yang di dalamnya berbagai simulasi sosial menemukan tempat hidupnya.

Berkembangnya ruang simulasi sosial dalam facebook telah membawa pengaruh bagi kehidupan sosial di dunia nyata pada hampir setiap tingkatannya. Menurut Piliang (2004: 105) bahwa setidak-tidaknya terdapat tiga tingkatan pengaruh ruang simulasi sosial yakni tingkat individual, tingkat antar individual, dan tingkat komunitas.

1. Tingkat Individual
Cyberspace telah menciptakan perubahan mendasar terhadap pemahaman kita tentang identitas. Sistem komunikasi sosial yang dijembatani oleh komputer telah melenyapkan batas-batas identitas itu sendiri di dalamnya. Seperti halnya pada facebook, setiap orang dapat memainkan peran sosial yang berbeda-beda, artinya menjadi beberapa orang yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Setiap orang bebas mencantumkan identitas apa saja baik nama, bentuk wajah, pekerjaan, agama, dan sebagainya, yang berbeda dari identitas sebenarnya di dunia nyata untuk berselancar mencari teman. Piliang mempertegas bahwa, yang tercipta adalah kekacauan identitas, yang akan mempengaruhi persepsi, pikiran, personalitas, dan gaya hidup setiap orang. Dikarenakan bila setiap orang bebas memakai baju identitas apapun, maka identitas itu tak ada lagi. Identitas hanya mungkin, bila sesuatu (bentuk, nilai, gaya, ideologi, makna) yang dipakai secara konsisten, sebab konsistensi merupakan cirri utama dari identitas (Piliang, 2004: 105).

Dalam jalinan pertemanan di dunia facebook, akan terjadi sebuah identitas yang dipermainkan, yang akhirnya lahirlah identitas palsu, identitas baru, identitas ganda, yang semuanya menjadikan individu seakan lahir kembali setelah dilahirkan yakni memasuki dunia barunya dunia facebook.

Dunia komunikasi virtual (istilah Levy dalam Piliang, 2004: 158, sebagai keadaan yang tidak aktual), pada tingkat individu mengakibatkan terjadinya ketergantungan tinggi. Bagaikan orang kecanduan, orang-orang akan rela menghabiskan waktunya berjam-jam duduk di belakang monitor komputer, atau laptopnya, dan bahkan ada orang yang rela semalaman dan seharian bercanda ria dengan teman yang lain di dunia virtual ini. Suatu kondisi yang melebihi dari sekedar memenuhi kebutuhan yang normatif.

2. Tingkat Antarindividual
Perkembangan komunitas virtual dalam cyberspace telah menciptakan relasi-relasi sosial yang bersifat virtual di ruang-ruang virtual: virtual shopping, virtual game, virtual conference, virtual sex, dan virtual mosque (Piliang, 2004: 106). Relasi-relasi demikian telah membujuk para komunitas dalam dunia facebook, disaat orang-orang asyik berinteraksi dengan teman virtualnya, saling memamerkan pakaian terbaru, tas terbaru, sepatu terbarunya lengkap dengan harga yang tercantum pada image yang tampilkan. Dunia game pun yang sebelumnya hanya lewat manual (pemutar TV), kini telah masuk di dunia virtual facebook sehingga setiap orang dapat tenggelam dalam permainan yang sarat tantangan dan bermain bersama orang lain dari berbagai belahan dunia. Tak hanya itu, berbicara seks dan transaksi seks pun akan semakin mudah dalam dunia facebook, tak repot bergabung dalam situs seks, tapi semua dapat tergabung dalam ruang jejaring sosial facebook. Dalam pandangan Piliang, orang telah terjebak dalam halusinasi teritorial, dimana dekat secara sosial dan jauh secara teritorial.

3. Tingkat Komunitas
Menurut Piliang (2004: 106), cyberspace diasumsikan dapat menciptakan satu model komunitas yang demokratik dan terbuka, yang disebut Rheingold “komunitas Imajiner” (Imaginary Community). Sangat berbeda dengan komunitas konvensional dimana kebersamaan sosial, solidaritas sosial yang terdapat di desa atau kota, terjadi melalui interaksi yang face to face. Sementara pada komunitas virtual di facebook, hanya tersedia imajinasi ruang pada bit-bit komputer yang tak ada ruang nyata di dalamnya.

Nyaris pula terlihat bahwa komunitas yang terbentuk pada facebook tak ada bentuk yang jelasnya, tak ada struktur, sistem yang sama dengan komunitas dalam dunia nyata. Bila komunitas konvensional pada dunia nyata, dapat diketahui dengan jelas struktur kepengurusannya, norma-norma yang ada di dalamnya baik tabu, adat, hukum dan aturan dalam kelompok. Sementara pada komunitas virtual itu nyaris tak ada, setiap orang dalam anggota group menjadi pemimpin, pengontrol, dan penilai dirinya sendiri.

Kondisi simulasi sosial yang terjadi di dunia facebook, bila dikaitkan dengan kajian Baudrillard yang menyebutkan simulacra. Baudrillard menjelaskan bahwa kita hidup di “zaman simulasi”. “Keaslian” menjadi kabur karena pesona dunia. Dunia simulasi telah menghilangkan pesona keaslian secara mutlak dan memalukan (Baudrillard dalam Ritzer, 2009: 161). Keberadaan simulasi yang tersebar luas adalah alasan umum bagi pengikisan perbedaan antara yang nyata dengan yang imajiner, yang benar dan yang palsu. Sangat membedakan yang nyata dari yang palsu. Setiap kondisi zaman sekarang adalah godokan dari yang nyata dan yang imajiner.

Penampilan seseorang dalam facebook penuh dengan simulasi. Bentuk wajah yang sarat dengan poles, dan fantasi image. Identitas diri pun di simulasikan dengan sebuah gengsi dan popularitas dalam mengarungi rimba dunia facebook. Hingga pada informasi yang ditampilkan, dibagikan pada teman yang kemudian memancing komentar dari teman yang lain, yang tidak lain hanyalah hasil simulacra (istilah baudrillard) dari seseorang. Kenyataan inilah, menurut Baudrillard dalam Ritzer (2009: 162) bahwa yang benar dan yang nyata mati, lenyap dalam longsoran simulasi. Adalah membahayakan untuk membuka kedok simulasi karena apa yang cocok kita temukan adalah tidak ada sesuatupun yang ditemukan, atau apa yang ada di sana adalah sesuatu yang tidak dapat diprediksikan, tidak “realitas” atau “kebenaran” di belakang bagian luar simulasi.
Lebih jauh lagi, Baudrillard dalam Ritzer (2009: 164) memandang era simulasi dan hiperrealitas sebagai bagian dari rangkaian fase citraan yang berturut-turut. Yakni:
1. Citraan adalah refleksi dasar realitas.
2. Citraan menutupi dan menyelewengkan dasar realitas.
3. Citraan menutupi ketidakadaan dasar realitas.
4. Citraan melahirkan ketidakberhubungan pada berbagai realitas apapun; citraan adalah kemurnian simulacrum itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s