WAJAH ADALAH CERMIN DIRI

Setiap orang lahir dan berkembang menjadi manusia yang berkepribadian khas melalui proses sosialisasi dari lingkungannya. Ada orang yang perangainya buruk seperti suka marah-marah, kurang sopan, sombong, dan pelit. Ada pula yang dikatakan kepribadiannya baik karena suka membantu orang lain, ramah, dan murah senyum. Kepribadian merupakan gambaran diri seseorang yang terlihat melalui ucapan dan tingkah laku. Para ahli terdahulu beranggapan bahwa setiap manusia itu telah mewarisi sifat tertentu dari orang tuanya. Namun, cooley (1864-1929) kemudian memunculkan teori baru dengan mengatakan bahwa manusia yang lahir dimuka bumi ini ibarat kertas kosong (konsep tabularasa), dimana lingkunganlah yang kemudian membentuk karakter/pribadi seseorang. Sampai saat ini hal tersebut masih dipertentangkan.

Membaca kepribadian orang lain tentunya sudah merupakan keahlian setiap orang. Anggapan kita terhadap orang lain saat berinteraksi, itulah kesan. Dari kesan inilah kita menilai orang itu baik atau orang itu kurang baik. Cooley menciptakan istilah looking-glass self , dimana perasaan mengenai diri kita berkembang dari interaksi dengan orang lain.

Salah satu hal yang sangat berperan penting saat kita berinteraksi adalah bahasa tubuh. Melalui bahasa tubuh, tercermin sinyal-sinyal kepada orang lain mengenai diri kita. Bahasa tubuh ini pula tergambar melalui wajah. Wajah adalah bagian pertama yang kebanyakan orang perhatikan ketika memulai perkenalan. Wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama merupakan pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ada wajah yang menenteramkan hati orang lain, dan ada pula wajah yang menggelisahkan orang lain. Setiap orang pastilah punya wajah. Wajah istri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Ketika kita berjumpa dengan siapapun pelajarilah wajah mereka. Pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Ada yang sorot matanya tajam menghujam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya
hitam, tapi penuh wibawa.

Sketsa wajah seseorang yang menenteramkan, tentunya akan membuat kita akan menaruh hormat. Terlihat dari senyumnya yang tulus, pancaran wajahnya, nampak ingin sekali membahagiakan siapapun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu. Ini pun perlu kita pelajari. Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

Marilah kita evalusi diri di depan cermin. Perhatikanlah raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi. Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

Nabi SAW ketika berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara. Adapun ketidakenakan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat. Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain! Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik.

2 responses to “WAJAH ADALAH CERMIN DIRI

  1. Belajarlah mengutamakan orang lain di hadapan kita.. SETUJU
    dan sungguh terkadang hal itu sangaaat sulit. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan memberi kita kekuatan agar selalu ikhlas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s