BUDAYA TIMUR VS BUDAYA BARAT TENTANG PERNIKAHAN

Berbicara tentang pernikahan tentunya merupakan salah satu kajian sosiologi khusus sosiologi keluarga. Pernikahan merupakan jalan utama untuk membentuk sebuah lembaga yang paling penting, utama dan pokok yakni lembaga keluarga. Tanpa pernikahan, lembaga keluarga tidak akan diakui keberadaannya dalam masyarakat. Dari keluargalah terbentuknya pranata dalam masyarakat.

Idealnya, setiap pasangan menikah atau membentuk lembaga keluarga seharusnya karena adanya rasa cinta. Cinta merupakan hasrat yang kuat yang mewujudkan tali kasih dari dua orang insan berbeda yang sepakat untuk saling menyayangi satu sama lain. Namun banyak pernikahan yang tidak didasari cinta. Ini tergantung dari budaya masyarakat tersebut. Tak banyak pula ada pernikahan yang terjadi melalui cinta yang tulus.

Praktek pernikahan yang tidak didasari cinta disebut perjodohan. Ini banyak terjadi pada masyarakat yang di belahan timur dunia. Para orang tua bersepakat untuk mengawinkan anak-anak mereka demi untuk mendekatkan hubungan, mendapatkan prestise di masyarakat dan menjaga nama baik. Pada masyarakat yang berbudaya timur, kasta sangatlah diperhatikan dalam memilih pasangan hidup. Contohnya di Indonesia masih sering terjadi praktek perjodohan, bahkan dikalangan kelas terdidik dan kelas atas. Mengapa ini dapat terjadi? Sementara di Amerika, pernikahan hanya merupakan masalah individualitas semata.

Jika dikaji secara sosiologis,
Pertama,
Praktek pernikahan pada suatu kelompok cocok dengan nilai sosial masyarakatnya.
Pemilihan pasangan secara individual di Amerika Serikat cocok dengan nilai di masyarakatnya yang indivualitas dan kemandirian. Sementara pernikahan atas dasar perjodohan cocok dengan nilai di Indonesia mengenai anak-anak yang taat pada wewenang orang tua.
Kedua,
Praktek pernikahan pada suatu kelompok cocok dengan pola stratifikasi sosialnya.
Di Indonesia symbol prestise sebuah keluarga dapat bertahan atau meningkatkan anaknya kawin dengan anak dari keluarga yang terhormat pula. Namun jika anak mereka kawin dengan anak dari keluarga dari kelas bawah, maka itu menurunkan martabat keluarga. Sebaliknya, jika anaknya kawin dengan anak dari keluarga yang terpandang maka keluarganya pun ikut naik kelas sosialnya. Sementara pada masyarakat yang menganut budaya barat pernikahan tidak terlalu berpengaruh terhadap kelas sosial dalam masyarakat. Yang paling menentukan tinggi rendahnya kelas dalam masyarakat adalah kepemilikannya pada sumber daya ekonomi.

Jika kita menengok dinegara ini, masyarakat Indonesia dalam era globalisasi ini telah dihempas oleh angin barat yang banyak berbenturan dengan angin timur yang menjadi ruhnya orang-orang asia. Konsep pernikahan sudah mulai banyak bergeser dari dasar ke sakralannya. Praktek jodoh menjodohkan yang banyak dilakukan para tetua sudah mulai ditinggalkan dengan perilaku remaja sekarang ini yang seakan lupa diri yang mengobral seks dimana-mana.
Hal tersebut dipertegas oleh hasil survey yang telah dimuat dalam detik.com tahun 2007, bahwa sebanyak 22,6 persen remaja penganut seks bebas. Ini pula yang memicu banyak remaja sekarang yang melakukan pernikahan dini atau menikah dengan MBA (married by accident). Pernikahan dini dan MBA kemudian telah meluluhlantahkan ajaran nenek moyang di Indonesia yang harus menjaga martabat keluarga. Ekses negative globalisasi ini mau tak mau harus ditelan mentah-mentah oleh generasi saat ini.

2 responses to “BUDAYA TIMUR VS BUDAYA BARAT TENTANG PERNIKAHAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s